|
Makalah Kompetensi dalam Kerja
|
|
Macam-Macam
Kompensasi dalam Kerja
|
|
Disusun oleh
Agita Ratna Pratiwi
Lolita Mayang Sari
Nur Agmala Sari
Nur Hasanah
|
|
Fakultas
Psikologi
Universitas
Muhammadiyah Surabaya
2015-2016
|
BAB
I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Setiap
perusahaan atau organisasi mengharapkan kinerja yang optimal dari setiap
karyawan atau anggotanya. Kinerja yang maksimal oleh setiap anggota atau
karyawan akan membuat suatu organisasi menjadi lebih dekat dengan tujuan
bersama. Karena bagaimanapun organisasi merupakan suatu system yang
terorganisir dimana jika salah satu system kinerjanya tidak optimal tentu saja
akan menyebabkan kerugian bersama karena akan mengganggu system yang lain.
Berdasarkan hal demikian, perusahaan harus mencari cara agar setiap karyawannya
bekerja secara maksimal dan sesuai harapan. Salah satu cara yang dapat
dilakukan agar hal itu tercapai adalah dengan cara memberikan kompensasi kepada
karyawan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai hubungan kompensasi dengan kinerja,
serta macam-macam kinerja.
1.2 Tujuan
Masalah
Tujuan masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini, diantaranya :
a.
Untuk mengetahui hubungan antara kinerja
dengan kompensasi.
b.
Untuk mengetahui apa itu kompensasi merit pay
c.
Untuk mengetahui apa itu kompensasi sales force
d.
Untuk mengetahui kompensasi gaji dan
upah
1.3 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dijawab
dalam makalah ini, diantaranya ;
a.
Apa hubungan antara kinerja dengan
kompensasi?
b.
Apa itu kompensasi merit pay?
c.
Apa itu kompensasi sales force?
d.
Apa itu kompensasi gaji dan upah?
BAB
II
Pembahasan
2.1 Hubungan antara
kompensasi dengan kinerja
Kompensasi
merupakan kontra prestasi terhadap penggunaan tenaga atau jasa yang telah
diberikan oleh tenaga kerja. Kompensasi merupakan jumlah paket yang ditawarkan
organisasi kepada pekerja sebagai imbalan atas penggunaan tenaga kerjanya.
Imbalan atau kompensasi pada dasarnya biaya tenaga kerja yang harus
dikendalikan dan setiap terjadi peningkatan besarnya imbalan, seharusnya
disertai dengan peningkatan jumlah penghasilan perusahaan. Imbalan mempunyai
pengertian yang lebih luas dari pada gaji/upah. Imbalan mencakup semua
pengeluaran perusahaan untuk pekerja dan diterima atau dinikmati pekerja, baik
secara langsung, rutin, maupun tidak langsung.
Para tenaga kerja melakukan tugasnya diperusahaan salah satunya ialah
karena mengharapkan kompensasi atau balas jasa dari perusahaan tersebut. Pada
umumnya, kompensasi yang diberikan tentu tidak akan disama ratakan untuk semua
karyawan atau tenaga kerja di perusahaan tersebut. Inilah yang menyebabkan
terkadang ada karyawan yang merasa belum cukup dengan kompensasi yang diberikan
untuknya. Sehingga seringkali terjadi pemogokkan kerja karena masalah
kompensasi tersebut.
Kompensasi
memang menjadi salah satu motivasi bagi karyawan itu sendiri untuk meningkatkan
kinerjanya. Sehingga para karyawan berlomba untuk meningkatkan kreativitasnya
untuk perusahaan tersebut. Bagi mereka yang dapat terus meningkatkan
kreativitasnya, maka kompensasi pun akan ditingkatkan seiring dengan
meningkatnya kinerja dan kreativitas karyawan tersebut. Namun bagi yang belum
bisa meningkatkan kreativitasnya, kompensasi pun tidak akan diberi peningkatan
sehingga terkadang mengakibatkan frustasi bagi karyawan itu sendiri dan
akhirnya kinerja karyawan tersebut pun semakin menurun.
Jadi
pada intinya, semakin besar kompensasi yang diberikan perusahaan kepada
karyawannya, maka akan semakin tinggi usaha para karyawan untuk meningkatkan
kinerjanya. Dan begitupun sebaliknya, apabila kompensasi yang diberikan kepada
karyawan semakin rendah bahkan dibawah rata-rata yang telah ditetapkan dalam
hukum, maka akan semakin rendah kinerja yang diberikan karyawan untuk
perusahaan tersebut karena mereka akan merasa kompensasi yang diberikan baik
kompensasi finansial maupun nonfinansialnya tidak sebanding dengan yang mereka
berikan kepada perusahaan. Dan hal ini dapat menyebabkan karyawan tersebut
berpindah tempat ke perusahaan lain. Sedangkan jika diberikan kompensasi yang
semakin meningkat, karyawan tersebut pasti akan terus memberikan kinerja yang
semakin meningkat di perusahaan tersebut tanpa berpindah ke perusahaan lain.
2.2 Kompensasi merit pay
Merit
pay merupakan ank a penghargaan yang berupa bonus, insentif hadiah atau apapun
namanya yang bertujuan memotivasi karyawan dan untuk meningkatkan kinerja
mereka (Moeheriono, 2009. 168). Kata merit
berasal dari bahasa inggris, yang
memiliki arti jasa atau manfaat serta prestasi. Jadi, merit pay adalah imbalan
yang dikaitkan dengan dengan jasa atau prestasi kerja (kinerja seseorang)
maupun manfaat yang telah diberikan oleh karyawan kepada organisasi. Implikasi
dari komsep merit pay ini adalah seseorang yang memiliki kinerja
yang baik, maka ia akan memperoleh imbalan yang lebih tinggi, begitu pula
sebaliknya, artinya semakin tinggi kinerja yang diraih karyawan akan semakin
tinggi pula kenaikan imbalannya. Perancangan imbalan oleh organisasi bertujuan
untuk memotivasi karyawan dalam rangka meningkatan kinerjanya dan
mempertahankan karyawan yang kompeten bertahan di perusahaan. Pemberian imbalan kepada karyawan harus
dirangcang dengan baik, karena jika tidak dirancang dengan baik, pemberian
imbalan akan merugikan karyawan karena biaya operasi bertambah. Meskipun
pemberian imbalan sudah dirancang sedemikian rupa, namun dalam penerapannya masih terdapat kendala, hal ini disebabkan
oleh beberapa factor, antara lain ; 1) perubahan desain pekerjaan ,2) komposisi
skill tenaga kerja yang semakin beragam tambah mempersulit penilaian kinerja ,
serta 3) keakuratan penilaian kinerja itu sendiri. Salah satu alternative untuk
menjembatani antara kepentingan kedua pihak tersebut adalah system pembayaran
didasarkan pada kinerja (performance based pay). Merit pay merupakan system
imbalan yang dikaitkan dengan kinerja karyawan karena semakin tinggi kinerja
yang dicapai karyawan, semakin tinggi pula imbalan yang diterimanya.
Berikut
merupakan hal-hal yang dijadikan patokan dalam penetapan dan pemberian imbalan,
1. Waktu
kerja (time based pay)¸dimana besar
kecilnya imbalan berkaitan dengan lamanya waktu yang dihabiskan sumber daya
manusia dalam pekerjaan
2. Kompetensi
(competency based or skill based pay), dimana besar kecilnya
imbalan berkaitan dengan leterampilan atau keahlian yang dimiliki SDM dalam
bekerja.
3. Senioritas
(seniority based pay), dimana besar
kecilnya imbalan berkaitan dengan lamanya pengabdian sumber daya manusia dalam
suatu pekerjaan.
4. Berat
ringannya pekerjaan (job based learning),
dimana besar kecilnya imbalan dikaitkan dengan berat ringannya tugas dan
tanggung jawab oleh karyawan dalam pekerjaan.
Manfaat Merit Pay
Banyak
pandangan manfaat penerapan merit pay bagi
karyawan dipandang sudah cukup adil, sebab karyawan diberikan imbalan yang
berbeda sesuai dengan prestasi kerja yan diraih masing-masing. Karyawan yang
menghasilkan kinerja tinggi akan memperoleh kenaikan gaji yang lebih tinggi
pula jika dibandingkan dengan karyawan yang memperoleh hasil level kinerja
dibawahnya (rendah). Hal ini berarti, karyawan harus berprestasi lebih baik
dulu, baru mendapatkan kenaikan imbalan. Berdasarkan hal ini, maka jika merit pay dapat diterapkan secara efektif akan memiliki
dampak positif bagi organisasi karena dapat meningkatkan kinerja serta
memberikan kepuasan karyawan.
Penerapan Merit Pay
Pelaksanaan
penerapan pembayaran dengan system merit
pay dilakukan dengan pembayaran regular untuk satu kali pembayaran atau
menaikkan imbalan pada pekerjaan yang memiliki kualitas tinggi dan beresiko
tinggi. Beberapa aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pembayaran jasa merit pay diantaranya ;
a. Aspek
pertama, kinerja individu, yaitu kinerja yang dihargai dan biasanya diukur
secara subyektif dan jenis ini memberikan kenaikan yang permanen atau tetap,
jasa ini diberikan langsung bersama-sama ditambahkan dengan gaji pokok yang
diperoleh akan lebih tinggi tanpa memandang kinerja yang akan dating
b. Aspek
kedua, sebagian besar metode pembayaran untuk kinerja lainnya bersifat berkala
atau hanya sesaat, yaitu pembayaran yang diberikan kepada karyawan untuk sekali
kejadian kinerja (mungkin berlangsung sehari, seminggu atau sebulan, atau
selama sebuah proyek sedang dikerjakan) dan tidak berpengaruh selamanya
terhadap gaji pokok yang akan dating.
c. Aspek
ketiga, pembayaran selanjutnya ditentukan oleh jumlah besarnya konstribusi
kinerja itu.
Berikut
merupakan masalah yang dihadapi oleh pihak menajemen dalam penerapan system
penerapan merit pay ;
a. Kesulitan
dalam mendifinisikan dan mengukur kinerja individu karyawan secara benar dan
tepat.
b. Tidak
tepatnya waktu proses penilaian yang berkaitan dengan system merit pay.
c. Adanya
kesenjangan kepercayaan dan kerja sama antara manajemen dan karyawan.
d. Merit pay relative
tidak cukup untuk karyawan yang menggunakan base pay.
e. Skeptisme
persepsi para karyawan dimana pembayaran mereka dikaitkan dengan kinerja.
Berikut
merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan apakah merit pay
benar-benar mencerminkan tingkat kinerja, yaitu
1. Distribusi
relative merit pay dapat meningkat
melalui seluruh organisasi harus berbeda secara siginfikan pula.
2. Dalam
kelompok kerja, distribusi pembayarannya harus berbeda secara signifikan
berdasarkan kinerja.
Faktor-faktor
penyebab kegagalan system merit pay
a. Hubungan
antara kinerja dan imbalan sangat lemah.
b. Besaran
insentif yang ditawarkan terlampau rendah.
c. Serikat
pekerja mempengaruhi keputusan penetapan gaj
d. Supervisor
seringkali menolak penilaian prestasi kerja sebab hanya sedikit supervisor yang
terlatih bisa menerimanya dan dengan sedikit kemungkinan menciptakan masalah
baru
e. Timbulnya
permasalahan anuitas karena pada saat pembayaran merit pay berdasarkan kinerja
yang lalu dan memungkinkan individu yang sebelumnya produktif menjadi merosot
untuk beberapa tahun dan tetap mendapatkan gaji yang tinggi.
Efektivitas system merit pay
Agar efektif, imbalan berdasarkan
kinerja harus berhubungan dengan tiga persoalan utama, yaitu : penentuan dan
pengukuran kinerja, penentuan imbalan dan penerimaan karyawan. Efektivitas
system ini juga tak bisa lepas dari perancangannya, maka beberapa syarat yang
harus dipenuhi adalah : a) menentukan dan mengukur kinerja b) menentukan
besaran imbalan c) mendapatkan penerimaan karyawan. Dibawah ini adalah
langkah-langkah yang dapat dilakukan agar system merit pay efektif dan efisien,
1. Mengembangkan
system penilaian kinerja yang akurat dan memiliki focus pada kriteria yang
berorientasi pada hasil pekerjaan,
2. Membuat
standart kinerja yang tinggi, sebab penghargaan
yang lebih rendah justru cenderung menghasilkan penghargaan yang sedang
sedang saja.
3. Melatih
supervisor dalam mekanisme penilaian kerja dalam memberikan umpan balik kepada
bawahan, sedangkan kinerja yang tidak efektif harus dikelola secara konstruktif.
4. Menggunakan
rentang peningkatan merit pay yang luas dan membuat peningkatan gaji menjadi
lebih bermanfaat.
5. Mengaitkan
secara erat imbalan dengan kinerja serta menggunakan penilaian kinerja untuk
memberikan atau menolak peningkatan merit
pay.
Dalam
suatu program imbalan berdasarkan penilaian kinerja, kemungkinan besar akan
berhasil jika program dikomunikasikan
secara jelas dan dapaty dipahami serta bonus mudah dihitung, karyawan ikut
serta dalam menetapkan dan menjalankan program (mereka percaya bahwa
diperlakukan adil), dan karyawan yakin mereka dapat mempercayai perusahaan ank
arena itu ada rasa aman dalam bekerja, serta bonus diberikan segera mungkin
sehingga dapat terlihat hasilnya.
2.3 Kompensasi
Sales Force
Hubungan Sales force dengan Kinerja
-
Sales force memengang peranan yang
sangat penting, dalam menjembatani hubungan antara keinginan perusahaan dengan konsumen.
-
Penerapan sistem kompensasi bagi sales
force berbeda secara mendasar jika dibandingkan dengan karyawan lainnya.
-
Progam kompensasi yang tepat bagi sales
force adalah harus mampu memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi
perusahaan dalam mencapai tujuannya.
-
Progam kompensasi ini harus memiliki
kemampuan mengintegrasikan keinginan interes individu karyawan dengan strategi
pemasaran perusahaan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi
sales force
1. Jenis
sales force
a. Account
manager, tenaga penjualan ini berfungsi mengembangkan dan membina hubungan baik
dengan konsumen yang sudah ada.
b. Direct
sales, mereka berfungsi untuk menjual produk secara langsung kepada konsumen
dalam suatu daerah wilayah tertentu.
c. Tehnical
support, fungsinya adalah memberikan dukungan teknis secara terus menerus
(continue) terhadap proses penjualan produk seperti yang dilakukan oleh sales
representatif dan lainnya.
2. Organisasi
penjualan
Jika merujuk pada
bagaimana cakupan ruang lingkup tugas sales force dan jenis tugas yang dilakukan maka Organisasi
penjualan ada yang dilakukan secara berkelompok atau individu. Mereka yang
hanya bertugas dalam ruang lingkupregional akan mendapat reward yang berbeda
dengen rekannya yang bertugas pada nasional atau internasional, demikian skema
kompensasi akan berbeda penerapannya.
3. Keterkaitan
penjualan jenis produk, pelayanan, dan konsumen.
è Produk
berupa barang atau jasa yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen sebagai
sasaran penjualan produk, seorang sales harus memiliki kulaifikasi dan fungsi
yang signifikan sesuai dengan yang dibutuhkan.
4. Jenis
kegiatan, dibedakan dalam tiga kategori :
a. Customer
development : informasi yang diperoleh dari analisis tersebut menghasilkan
kesimpulan bagaimana kegiatan lanjutan dapat dilakukan.
b. Direct
selling : sales force mengadakan komunikasi utama berupa tatap muka dengan
konsumen atau dalam bentuk komunikasi sekunder lainya.
c. Customer
identification : kegiatan ini mengarah pada analisis situasi dan kondisi riil
di lapangan.
è Dari
ketiga hal tersebut kemungkinan bisa terjadi mix antara kegiatan tersebut,
tergantung pada situasi di lapangan.
5. Kemampuan
menjual
è Suatu
kemampuan sales force untuk mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan
guna membeli produk yang ditawarkan.
è Tingkat
kemampuan menjual dapat dikatakan berada pada level yang sangat rendah jika
terdapat berbagai kondisi spt berikut :
a. Harga
(price), kualitas dan pelayanan produk yang ditawarkan tidak kompetitif
(terlalu mahal).
b. Masyarakat
tidak antusias lagi terhadap produk yang ditawarkan.
c. Produk
yangditawarkan adalah barang lama
d. Perusahaan
memiliki citra yang buruk di mata masyarakat
e. Intensitas
advertising dan promotion sangat rendah
f. Tidak
ada dukungan dari departemen lain dalam organisasi dalam hal untuk peningkatan
kualitas produk
g. Komunikasi
yang tidak intens terhadapa konsumen
Kompensasi untuk sales force bisa
dalam bentuk insentif finansial atau bentuk insentif nonfinancial
1. Insentif
financial, terdiri atas empat macam jenis
a. Dasar
gaji (base salary)
b. Komisi
(commision)
c. Dasar
gaji dan komisi
d. Dasar
gaji ditambah bonus
-
Tabel Kelebihan dan kekurangan siste
kompensasi
|
Jenis kompensasi
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
|
Dasar Gaji
|
-Mendorong
pelayanan konsumen
-mengecilkan
hati penjualan yang tinggi
- membantu
tim pada situasi penjualan
-menghindari
kesalahpahaman karyawan
-membatasi
penerimaan
|
-kemampuan perusahaan membayar seminimal mungkin
-hasilnya tidak berani dibawah supervisor penjualan
-Hasilnya tidak mencapai tinggi (rendah)
-menambah biaya tetpa penjualan
|
|
Komisi
|
-Menarik
sales berkinerja tinggi
-Memberikan insentif
secara langsung bagi penjualan maksimal
-Menjamin
penjualan yang tinggi
-Menyampaikan
pesan untuk karyawan yang malas
-Menghapus
kebutuhan supervisor
|
-Mendorong sales untuk omzet jangka pendek saja
-Hanya berfokus pada volume penjualan saja
-Dapat menekan penjualan
-Menyediakan pembayaran yang sama
-Menuju kekurangan dari identitas yang tidak terdeteksi
perusahaan aau produknya
|
|
Bonus
|
-menyediakan
fleksibel dan menentukan dasar imbalan
-dapat
dipakai sebagai motivasi perilaku sales
-memungkinkan
manajemen untuk merubah struktur gaji dan target penjualan
-dapat
menyesuaikan imbalan penjualan
|
-dapat terjadi slah pengertian
-hanya berfokus pada volume penjualan saja
-dapat menekan penjualan
-menyediakan pembayaran yang sama
-menuju kekurangan dari identitas yang tidak terdeteksi
perusahaan atau produknya
|
2. Insentif
nonfinansial
a. Pemberian
luxury consumer goods (pemberian gifts, travel vouncher)
b. Pemberian
car schemes
c. Pemberian
holidays
d. Pemberian
premium club
Progam pengembangan sistem
kompensasi sales force
-
Sejumlah langkah sebagai petunjuk bagi
para manajer untuk mennciptakan progam pengembangan sistem kompensasi bagi
sales force
a. Analyse
Requirement à
manajer diminta untuk menilai semua faktor yang berkaitan dengan kegiatan
penjualan sales force
b. Involve
the sales force à tahap terpenting untuk memperoleh
pandangan dan aspirasi dari sales force ttg bagaimana bentuk kompensasi yang
diinginkan
c. Define
objectives à
manajer menganalisis skema apakah yang cenderung diingkan perusahaan
d. Test
the formula
e. Decide
the scheme in detail
f. Consider
the implications
g. Modification
the scheme
h. Introduce
the scheme
i.
Consult the sales force
Prose
perancang sistem balas jasa mengikuti empat tahapan, yaitu :
1. Penentuan
tujuan sistem balas jasa ( pengkajian mengenai visi, misi, tujuan, strategi dan
budaya perusahaan)
2. Menentukan
dasar dan kriteria pemberian imbalan serta tingkat pentingnya kriteria dan
banyaknya tingkatan perkriteria
3. Melakukan
survei pasar untuk mengetahui tingkat penawaran dan permintaan sumber daya
manusia sehingga dapat diperkirakan tingkat imbalan yang adil secara eksternal
4. Menetapkan
besarnya total balas jasa maksimum yang berguna untuk menetukan besarnya
imbalan maksimum per kriteria dan menetapkan beda besarnya imbalan antara satu
tingkatan dengan tingkatan lainnya.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kompensasi
memang menjadi salah satu motivasi bagi karyawan itu sendiri untuk meningkatkan
kinerjanya. Sehingga para karyawan berlomba untuk meningkatkan kreativitasnya
untuk perusahaan tersebut. Bagi mereka yang dapat terus meningkatkan
kreativitasnya, maka kompensasi pun akan ditingkatkan seiring dengan
meningkatnya kinerja dan kreativitas karyawan tersebut. Namun bagi yang belum
bisa meningkatkan kreativitasnya, kompensasi pun tidak akan diberi peningkatan
sehingga terkadang mengakibatkan frustasi bagi karyawan itu sendiri dan
akhirnya kinerja karyawan tersebut pun semakin menurun.
Jadi
pada intinya, semakin besar kompensasi yang diberikan perusahaan kepada
karyawannya, maka akan semakin tinggi usaha para karyawan untuk meningkatkan
kinerjanya. Dan begitupun sebaliknya, apabila kompensasi yang diberikan kepada
karyawan semakin rendah bahkan dibawah rata-rata yang telah ditetapkan dalam
hukum, maka akan semakin rendah kinerja yang diberikan karyawan untuk
perusahaan tersebut karena mereka akan merasa kompensasi yang diberikan baik
kompensasi finansial maupun nonfinansialnya tidak sebanding dengan yang mereka
berikan kepada perusahaan.
Adapun
macam dari kompensasi yaitu : kompensasi merit
pay dan kompensasi sales force.