Minggu, 06 Desember 2015

Art Therapy – Carl Gustav Jung




          Carl G Jung mulanya adalah pengikut Freud, namun kemudian ia memiliki pandangan tersendiri terhadap konsep kepribadian, Jung menolak pandangan Frued tentang pentingnya seksualitas, dimana menurut Jung kebutuhan seks manusia setara atau sebanding dengan kebutuhan manusia yang lainnya, seperti makan, kebutuhan spiritual dan pengalaman religious. Hal kedua yang ditentang Jung dari pandangan Freud adalah tentang pandangan mekanistik terhadap dunia; dimana menurut Jung tingkahlaku manusia dipicu bukan hanya oleh masa lalu tetapi juga oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan dan aspirasinya.
            Jung menekankan peran maksud dalam perkembangan manusia. Manusia hidup dengan sasaran-sasaran disamping dengan sebab-sebab. Jung memiliki pandangan yang optimistis dan kreatif tentang manusia, menenkankan tujuan aktualisasi. Masa kini tak hanya ditentukan oleh masa lampau, tetapi juga oleh masa mendatang. Beberapa konsep yang dikemukakan oleh Jung adalah ketaksadaran personal, ketaksadaran kolektif, persona, anima dan animus serta dua sikap (ekstraversi dan introversi).
            Ketaksadaran personal meliputi pengalaman-pengalaman yang pada suatu saat disadari tapi kemudian direpresi dan terlupakan. Gagasan-gagasan yang menyakitkan bagi kesadaran diabaikan dan ditekan. Sedangkan ketaksadaran kolektif meliputi kumpulan-kumpulan ingatan terpendam yang diwariskan nenek moyang. Contoh dari ketaksadaran kolektif ialah seseorang yang takut akan kegelapan. Persona ialah topeng yang digunakan manusia dalam merespon situasi-situasi dan tuntutan-tuntutan sosial. Persona adalah peran yang dirancang masyarakat, bagian yang diharapkan dimainkan oleh seseorang. Persona adalah sisi yang ditunjukkan oleh seseorang kepada dunia sosialnya. Anima animus adalah dua sisi yang dimiliki  oleh manusia, yaitu anima sisi feminin yang dimiliki pria yang membuat pria (memungkinkan) memahami wanita, sedangkan animus adalah sisi maskulin yang dimiliki wanita yang memungkinkan wanita memahami pria. Sikap ekstraversi mengarahkan seseorang pada dunia luar sedangkan introvert sebaliknya. Teori psikoanalitik Jung digunakan sebagai dasar beberapa metode psikoterapi. Beberapa metode psikoterapi itu adalah analisis mimpi, tes asosiasi kata, metode amplifikasi dan terapi seni.
Jung berpendapat bahwa semua perilaku pada diri seseorang dapat dijelaskan dengan konflik yang terjadi di bawah sadar. Melalui art therapy seseorang dapat melepaskan ketidaksadarannya yang berisi hal-hal seperti ketakutan-ketakutan, tekanan, hal-hal yang tidak dapat diterima secara sadar baik bagi diri orang tersebut maupun bagi lingkungan sosial. Ketidaksadaran dilepaskan melalui ekspresi seni yang spontan, sehingga klien dapat melakukan asosiasi bebas dan menjadi media untuk sublimasi (Edwards, 2004).Ada banyak penelitian yang menggunakan Art Therapy sebagai media intervensi untuk berbagai problema, seperti masalah kecemasan, skizofrenia, imsomnia, masalah keterampilan sosial, konsep diri dan masalah-masalah lain. Penelitian yang dilakukan oleh Rifa Hidayah menunjukkan hasil bahwa Art therapy berpengaruh dalam menumbuhkan konsep diri anak. Tahapan dalam pelaksanaan penelitian itu diantaranya:
a.       eksperimen dilakukan pada satu kelompok atau disebut dengan pretest – posttest one group only.
b.      Pretest dimkasudkan untuk mengetahui tingkat konsep diri anak sebelum mendapatkan atau melakukan terapi seni.
c.       Proses terapi seni : Ice breaking, diskusi, brainstorming & menggambar tentang diriku, refleksi, menggambar tentang diri dan teman-teman, diskusi, permainan tebak gambar, diskusi dan refleksi diri, menggambar tempat tinggal sekitar tempat tinggalnya, brainstorming, diskusi & feedback, menggambar tentang Indonesia dan menggambar keberadaan partisipan di dalam Negara Indonesia, diskusi dalam kelompok kecil, setiap anak diminta untuk menceritakan isi gambar, curah pendapat mengenai cita-cita, mengambar cita-cita yang ingin diraih dimasa depan serta mendiskusikannya dalam kelompok kecil
d.      Postest skala konsep diri.
e.       Dilakukan wawancara terhadap 3 orang partisipan yang memiliki skor konsep diri sedang saat pretest dan memiliki skor konsep diri tinggi saat posttest.
Hampir semua partisipan dalam penelitian ini mengalami peningkatan skor konsep diri. Penelitian menggunakan data kuantitatif serta diperkuat dengan data kualitatif, yaitu dilakukan wawancara pada 3 orang partisipan. Bagaimana terapi seni dapat meningkatkan konsep diri seseorang ? Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, ternyata partisipan merasakan bahwa terapi seni sangat bermanfaat bagi dirinya, seakan partisipan mempunyai rasa percaya diri dan mampu mengungkapkan perasaan dirinya yang sebelumnya belum bisa diungkapkan dan akhirnya bisa ia ungkapkan lewat bentuk gambar, sehingga partisipan memiliki konsep diri yang lebih positif dibandingkan sebelumnya. Partisipan berpendapat bahwa menggambar atau melukis dapat mengurangi beban yang dirasakan dan menjadi lebih tenang terutama dalam bergaul.
Terapi seni dapat meningkatkan konsep diri seseorang karena meningkatkan tingkat kepercayaan diri seseorang. Partisipan dapat berekspresi melalui gambar sesuai dengan yang mereka inginkan. Terapi seni dirasakan dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Kepercayaan diri tersebut memudahkan mereka untuk dapat meningkatkan konsep dirinya dalam memandang dirinya yang mungkin selama ini dianggap negatif cenderung pesimis karena itu penting mengingkatkan konsep diri anak yang positif, sehingga anak mampu menunjukkan sikap optimis dan pantang menyerah (Johnson, 2005). Terapi seni dianggap sebagai alat yang efektif untuk mendapatkan  wawasan dinamika berfikir seseorang dibawah alam sadarnya. Pengungkapan ekspresi melalui gambar / lukisan merupakan penyampaian pesan yang efektif. Secara psikologis, jika seseorang telah mengekspresikan emosiya melalui gambar, maka akan berkembang kesadaran bahwa ia mampu berbagi, merasa ada jalan keluar dan merasa tidak sendirian lagi.
Terapi seni yang telah diberikan untuk mengembangkan konsep diri anak melalui proses menggambar bertujuan untuk mengembangkan rasa percaya diri sekaligus media katarsis. Intinya adalah terapi seni yang diberikan sesuai dengan keterampilan terapis, pendidik, perawat, psikolog maupun psikiater merupakan sebuah media terapi yang efektif sebagai “penolong”, terutama bagi anak (Huss, 2009).
Refrensi:
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek : Konseling dan Terapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Hiltraut, W P, dkk. (2013). Art Therapy untuk mengurangi kecemasan pada anak yang baru memasuki panti. Kajian Ilmiah Psikologi No 1, Vol. 2, , hal. 50 – 53.
Hidayah, Rifa. (2014). Pengaruh Terapi Seni terhadap konsep diri anak. Makara Hubs-Asia.

1 komentar:

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, saya Kunthi Ismu Syahroni, mahasiswi tingkat akhir Fakultas Psikologi Semarang. Sebelumnya maaf kalau mengganggu mbak. Jadi begini, beberapa waktu lalu saya lihat comment mbak yg menanyakan tentang task commitment di situs http://organisasisdm.blogspot.co.id/2015/03/hubungan-adversity-quotient-dan.html . Sekarang saya juga sedang menyusun skripsi terkait task commitment. Jadi, kalau mbak berkenan, saya mau menanyakan referensi teori tentang task commitment yang mungkin sudah pernah mbak baca,dapat darimana ya mbak ? Karena saya belum menemukan teori yg cukup lengkap tentang task commitment. Terima kasih mbak sebelumnya :)

    BalasHapus