Carl G Jung mulanya adalah pengikut
Freud, namun kemudian ia memiliki pandangan tersendiri terhadap konsep
kepribadian, Jung menolak pandangan Frued tentang pentingnya seksualitas, dimana
menurut Jung kebutuhan seks manusia setara atau sebanding dengan kebutuhan
manusia yang lainnya, seperti makan, kebutuhan spiritual dan pengalaman
religious. Hal kedua yang ditentang Jung dari pandangan Freud adalah tentang
pandangan mekanistik terhadap dunia; dimana menurut Jung tingkahlaku manusia
dipicu bukan hanya oleh masa lalu tetapi juga oleh pandangan mengenai masa
depan, tujuan dan aspirasinya.
Jung menekankan peran maksud dalam
perkembangan manusia. Manusia hidup dengan sasaran-sasaran disamping dengan
sebab-sebab. Jung memiliki pandangan yang optimistis dan kreatif tentang
manusia, menenkankan tujuan aktualisasi. Masa kini tak hanya ditentukan oleh
masa lampau, tetapi juga oleh masa mendatang. Beberapa konsep yang dikemukakan
oleh Jung adalah ketaksadaran personal, ketaksadaran kolektif, persona, anima
dan animus serta dua sikap (ekstraversi dan introversi).
Ketaksadaran personal meliputi
pengalaman-pengalaman yang pada suatu saat disadari tapi kemudian direpresi dan
terlupakan. Gagasan-gagasan yang menyakitkan bagi kesadaran diabaikan dan
ditekan. Sedangkan ketaksadaran kolektif meliputi kumpulan-kumpulan ingatan
terpendam yang diwariskan nenek moyang. Contoh dari ketaksadaran kolektif ialah
seseorang yang takut akan kegelapan. Persona ialah topeng yang digunakan
manusia dalam merespon situasi-situasi dan tuntutan-tuntutan sosial. Persona
adalah peran yang dirancang masyarakat, bagian yang diharapkan dimainkan oleh
seseorang. Persona adalah sisi yang ditunjukkan oleh seseorang kepada dunia sosialnya.
Anima animus adalah dua sisi yang dimiliki
oleh manusia, yaitu anima sisi feminin yang dimiliki pria yang membuat
pria (memungkinkan) memahami wanita, sedangkan animus adalah sisi maskulin yang
dimiliki wanita yang memungkinkan wanita memahami pria. Sikap ekstraversi
mengarahkan seseorang pada dunia luar sedangkan introvert sebaliknya. Teori
psikoanalitik Jung digunakan sebagai dasar beberapa metode psikoterapi.
Beberapa metode psikoterapi itu adalah analisis mimpi, tes asosiasi kata,
metode amplifikasi dan terapi seni.
Jung berpendapat bahwa semua perilaku pada diri
seseorang dapat dijelaskan dengan konflik yang terjadi di bawah sadar. Melalui
art therapy seseorang dapat melepaskan ketidaksadarannya yang berisi hal-hal
seperti ketakutan-ketakutan, tekanan, hal-hal yang tidak dapat diterima secara
sadar baik bagi diri orang tersebut maupun bagi lingkungan sosial.
Ketidaksadaran dilepaskan melalui ekspresi seni yang spontan, sehingga klien
dapat melakukan asosiasi bebas dan menjadi media untuk sublimasi (Edwards,
2004).Ada banyak penelitian yang menggunakan Art Therapy sebagai media
intervensi untuk berbagai problema, seperti masalah kecemasan, skizofrenia,
imsomnia, masalah keterampilan sosial, konsep diri dan masalah-masalah lain. Penelitian
yang dilakukan oleh Rifa Hidayah menunjukkan hasil bahwa Art therapy
berpengaruh dalam menumbuhkan konsep diri anak. Tahapan dalam pelaksanaan
penelitian itu diantaranya:
a. eksperimen
dilakukan pada satu kelompok atau disebut dengan pretest – posttest one group only.
b. Pretest
dimkasudkan untuk mengetahui tingkat konsep diri anak sebelum mendapatkan atau
melakukan terapi seni.
c. Proses
terapi seni : Ice breaking, diskusi, brainstorming & menggambar tentang
diriku, refleksi, menggambar tentang diri dan teman-teman, diskusi, permainan
tebak gambar, diskusi dan refleksi diri, menggambar tempat tinggal sekitar
tempat tinggalnya, brainstorming, diskusi & feedback, menggambar tentang
Indonesia dan menggambar keberadaan partisipan di dalam Negara Indonesia,
diskusi dalam kelompok kecil, setiap anak diminta untuk menceritakan isi
gambar, curah pendapat mengenai cita-cita, mengambar cita-cita yang ingin
diraih dimasa depan serta mendiskusikannya dalam kelompok kecil
d. Postest
skala konsep diri.
e. Dilakukan
wawancara terhadap 3 orang partisipan yang memiliki skor konsep diri sedang saat
pretest dan memiliki skor konsep diri tinggi saat posttest.
Hampir
semua partisipan dalam penelitian ini mengalami peningkatan skor konsep diri. Penelitian
menggunakan data kuantitatif serta diperkuat dengan data kualitatif, yaitu
dilakukan wawancara pada 3 orang partisipan. Bagaimana terapi seni dapat meningkatkan
konsep diri seseorang ? Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, ternyata partisipan
merasakan bahwa terapi seni sangat bermanfaat bagi dirinya, seakan partisipan
mempunyai rasa percaya diri dan mampu mengungkapkan perasaan dirinya yang
sebelumnya belum bisa diungkapkan dan akhirnya bisa ia ungkapkan lewat bentuk
gambar, sehingga partisipan memiliki konsep diri yang lebih positif dibandingkan
sebelumnya. Partisipan berpendapat bahwa menggambar atau melukis dapat
mengurangi beban yang dirasakan dan menjadi lebih tenang terutama dalam
bergaul.
Terapi
seni dapat meningkatkan konsep diri seseorang karena meningkatkan tingkat
kepercayaan diri seseorang. Partisipan dapat berekspresi melalui gambar sesuai
dengan yang mereka inginkan. Terapi seni dirasakan dapat meningkatkan
kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Kepercayaan diri tersebut memudahkan
mereka untuk dapat meningkatkan konsep dirinya dalam memandang dirinya yang
mungkin selama ini dianggap negatif cenderung pesimis karena itu penting
mengingkatkan konsep diri anak yang positif, sehingga anak mampu menunjukkan
sikap optimis dan pantang menyerah (Johnson, 2005). Terapi seni dianggap
sebagai alat yang efektif untuk mendapatkan
wawasan dinamika berfikir seseorang dibawah alam sadarnya. Pengungkapan
ekspresi melalui gambar / lukisan merupakan penyampaian pesan yang efektif.
Secara psikologis, jika seseorang telah mengekspresikan emosiya melalui gambar,
maka akan berkembang kesadaran bahwa ia mampu berbagi, merasa ada jalan keluar
dan merasa tidak sendirian lagi.
Terapi
seni yang telah diberikan untuk mengembangkan konsep diri anak melalui proses
menggambar bertujuan untuk mengembangkan rasa percaya diri sekaligus media
katarsis. Intinya adalah terapi seni yang diberikan sesuai dengan keterampilan
terapis, pendidik, perawat, psikolog maupun psikiater merupakan sebuah media
terapi yang efektif sebagai “penolong”, terutama bagi anak (Huss, 2009).
Refrensi:
Alwisol. (2009). Psikologi
Kepribadian. Malang: UMM Press
Corey,
Gerald. (2009). Teori dan Praktek : Konseling dan Terapi. Bandung: PT Refika
Aditama.
Hiltraut, W P, dkk.
(2013). Art Therapy untuk mengurangi kecemasan pada anak yang baru memasuki panti. Kajian Ilmiah Psikologi No 1, Vol. 2, , hal. 50 – 53.
Hidayah, Rifa. (2014). Pengaruh Terapi Seni terhadap
konsep diri anak. Makara Hubs-Asia.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, saya Kunthi Ismu Syahroni, mahasiswi tingkat akhir Fakultas Psikologi Semarang. Sebelumnya maaf kalau mengganggu mbak. Jadi begini, beberapa waktu lalu saya lihat comment mbak yg menanyakan tentang task commitment di situs http://organisasisdm.blogspot.co.id/2015/03/hubungan-adversity-quotient-dan.html . Sekarang saya juga sedang menyusun skripsi terkait task commitment. Jadi, kalau mbak berkenan, saya mau menanyakan referensi teori tentang task commitment yang mungkin sudah pernah mbak baca,dapat darimana ya mbak ? Karena saya belum menemukan teori yg cukup lengkap tentang task commitment. Terima kasih mbak sebelumnya :)
BalasHapus